jump to navigation

‘Mengail di Air Keruh’ Pengobatan Tradisional Oktober 16, 2008

Posted by teknosehat in Bioetik & Biohukum, HUKUM KESEHATAN, Kesehatan Masyarakat, Obat & Makanan.
trackback

‘Mengail di Air Keruh’ Pengobatan Tradisional
Billy N. <billy@hukum-kesehatan.web.id>

Ketika sakit, tentunya semua orang harus berobat agar kembali bisa sehat. Adalah hak setiap orang untuk bebas memilih hendak berobat ke mana, sesuai dengan keinginan & kemampuannya. Sistem kesehatan Indonesia juga mengakomodasi berbagai sistem pengobatan, dari mulai pengobatan dengan ilmu kedokteran modern, pengobatan tradisional, sampai alternatif-komplimentari dari dalam & luar negeri.
Seluruh pengobatan di luar ilmu kedokteran & keperawatan menurut pasal 59 UU no.36/2009 tentang Kesehatan digolongkan sebagai pengobatan tradisional, termasuk pengobatan alternatif-komplimentari yang saat ini banyak pula dijual dengan pola multi-level marketing (MLM).
Dari semua sistem pengobatan tersebut, sejauh ini pemerintah baru serius mengatur, mengawasi, & membina sistem pengobatan menurut ilmu kedokteran modern. Ini ditandai dengan munculnya berbagai peraturan perundangan yang mengatur praktik tenaga kesehatan, beserta pelayanan kesehatan & sarananya. Sementara, untuk pengobatan tradisional, relatif belum tersentuh secara spesifik oleh pengaturan, pengawasan, & pembinaan pemerintah.
Meskipun dalam UU no.36/2009 pengobatan tradisional diatur dalam suatu bab khusus mengenai pengobatan tradisional, tetapi pada kenyataannya sampai saat ini hal-hal yang telah diatur dalam pasal-pasal tersebut kurang dilaksanakan oleh pemerintah. Yang selama ini terlihat adalah pemerintah hanya bersikap reaktif dengan melakukan penyitaan & pelarangan ketika obat tradisional diketemukan mengandung bahan kimia obat.
Industri pengobatan tradisional di negeri ini yang beromzet trilyunan rupiah setiap tahunnya tentu menarik banyak pihak untuk terjun ke dalamnya. Hal ini dimanfaatkan banyak pihak yang memiliki maksud kurang baik untuk ‘mengail di air keruh’ pengobatan tradisional akibat tidak tegasnya pemerintah dalam menegakkan hukum & akhirnya masyarakat terus menjadi korban atau dirugikan baik secara fisik maupun materi.
Sebenarnya, telah banyak pengobatan tradisional seperti contohnya berbagai jenis jamu yang sebenarnya telah terbukti secara ilmiah. Namun akhirnya ikut kurang dipercaya masyarakat akibat tiadanya penegakkan hukum untuk menertibkan pengobatan tradisional yang berpotensi merugikan masyarakat.
Pemerintah terkesan membiarkan ketika saat ini banyak pengobatan tradisional marak diiklankan di berbagai media massa & mendapat publikasi di media cetak atau elektronik. Sebagai contoh, pada saat ini berbagai pengobatan tradisional memiliki jam siar secara rutin di berbagai stasiun radio atau televisi swasta & milik pemerintah yang bersifat lokal maupun nasional.
Dalam jam siaran tersebut, para pengisi acara secara aktif memberikan penjelasan, konsultasi, & saran pengobatan pada pemirsa. Sebagian pengisi acara ada yang menggunakan pakaian, peralatan, & metode kerja yang biasa digunakan oleh dokter. Atau kadangkala juga mengundang dokter sebagai narasumber untuk lebih meyakinkan pemirsanya. Acara-acara tersebut biasanya disertai pula oleh berbagai kesaksian keberhasilan pengobatan yang telah dilakukan.
Di media cetak, berbagai pengobatan tradisional memasang banyak iklan & memiliki rubrik konsultasi tersendiri. Dalam iklan-iklan yang dimuat, mayoritas pengobatan tradisional mengeluarkan klaim bahwa pengobatannya efektif untuk berbagai macam penyakit disertai kesaksian dari para penggunanya yang dikatakan telah sembuh dari penyakit yang dideritanya. Berbagai iklan tersebut biasanya dilengkapi pula oleh pernyataan bahwa produk/pengobatannya telah memperoleh izin dari pemerintah, seperti Badan Pengawas Obat & Makanan (BPOM). Hal-hal tersebut secara sepintas terkesan seperti hal yang biasa-biasa saja, namun sebenarnya telah terjadi berbagai pelanggaran hukum.
Penggunaan pakaian, peralatan, atau metode kerja yang biasa digunakan oleh dokter oleh seseorang yang bukan dokter adalah pelanggaran terhadap pasal 73 & 77-78 UU no.29/2004 tentang Praktik Kedokteran yang melarang siapapun yang bukan seorang dokter untuk menggunakan identitas, alat, metode, atau cara lain dalam memberikan pelayanan pada masyarakat seperti seorang dokter.
Banyak produsen obat tradisional pun melakukan kebohongan terhadap masyarakat dengan menyebutkan bahwa produknya terdaftar di BPOM & dapat mengobati berbagai penyakit. Tetapi tidak disebutkan bahwa produk mereka bukan terdaftar sebagai obat, melainkan hanya terdaftar sebagai suplemen makanan yang tidak boleh dipublikasikan sebagai suatu obat yang dapat mengobati penyakit tertentu.
Dokter pun ikut ‘memperkeruh’ suasana ini dengan turut mendukung, mempraktikan, atau menjual berbagai pengobatan tradisional yang tidak memiliki dasar ilmiah demi menambah penghasilan. Hal ini sebenarnya merupakan pelanggaran terhadap pasal 51a UU no.29/2004 yang menyatakan bahwa dokter hanya boleh memberikan pelayanan sesuai standar profesi & prosedur operasional. Sejauh ini, masih jarang pengobatan tradisional yang masuk ke dalam standar profesi dokter & prosedur operasional.
Berbagai kesaksian pengguna yang dipublikasikan juga mengesankan bahwa suatu pengobatan tradisional terbukti ampuh untuk mengobati berbagai penyakit. Tetapi, kesaksian pengguna bukanlah bukti secara ilmiah yang dapat diterapkan pada orang lain dengan cara yang sama. Seharusnya bukti keberhasilan suatu pengobatan didapat dari suatu penelitian ilmiah yang dilakukan secara obyektif & dihitung dengan statistik, bukan sekadar kesaksian pengguna yang mungkin hanya suatu kebetulan belaka.
Masyarakat ingin menjadi sehat dengan berbagai macam cara, termasuk melalui pengobatan tradisional. Beberapa jenis pengobatan tradisional pun merupakan warisan & kebanggaan bangsa. Sudah seharusnya hal ini didukung oleh pemerintah untuk mencegah korban/kerugian di masyarakat dengan penelitian-pengembangan pengobatan tradisional disertai penegakkan hukum, sehingga tercipta masyarakat yang sehat & produktif untuk kemajuan bangsa.
(c)Hukum-Kesehatan.web.id

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: