jump to navigation

Dicari: ‘Dokter Independen’ Agustus 3, 2008

Posted by teknosehat in Bioetik & Biohukum, HUKUM KESEHATAN, Tenaga Kesehatan.
trackback

Dicari: ‘Dokter Independen’
Billy N. <billy@suterafoundation.org>

Tuntutan untuk suatu ‘tim dokter independen’ selalu mengemuka dari masyarakat setiap kali muncul masalah yang berkaitan dengan keadaan kesehatan tersangka, terdakwa, terpidana, atau korban dalam suatu kasus hukum atau politik. Tuntutan ini terutama muncul pada era reformasi, yang diawali dengan tuntutan suatu ‘tim dokter independen’ untuk memeriksa keadaan kesehatan almarhum Pak Harto yang waktu itu yang menjadi tersangka kasus korupsi.
Seiring waktu, tuntutan tersebut semakin sering muncul ketika masyarakat melihat kejanggalan keadaan kesehatan para tersangka kasus korupsi yang mangkir untuk dilakukan pemeriksaan oleh para penegak hukum dengan alasan sakit & mendapat surat sakit dari dokter. Beberapa kali pula alasan sakit dapat digunakan para penghuni rutan/lapas untuk mencoba melarikan diri atau ‘rehat’ dari hukuman dengan alasan berobat, bahkan sampai ke luar negeri.
Yang terakhir, tuntutan adanya ‘tim dokter independen’ dilontarkan saat almarhum Maftuh, mahasiswa Universitas Nasional Jakarta yang menjadi korban cedera dalam demonstrasi penolakan kenaikan BBM & akhirnya meninggal dunia. Tim dokter yang menanganinya memberikan keterangan bahwa kematiannya dicurigai akibat oleh infeksi HIV.
Wacana tuntutan ‘tim dokter independen’ adalah suatu hal yang menarik, karena sejatinya dokter sebagai profesi memiliki sifat independen. Hal ini tercantum baik di kode etik maupun peraturan perundangan yang mengikat & mengatur profesi dokter.
Apakah wacana tuntutan ini muncul disebabkan para dokter sebagai pegawai dari institusi penegak hukum (kepolisian/kejaksaan) atau instansi pemerintah dianggap kurang independen karena tidak dapat menjaga rahasia, mudah dipengaruhi situasi politik & tekanan dari luar, atau mudah disuap? Begitu pula untuk (tim) dokter pribadi yang dianggap lebih cenderung membela kepentingan pasiennya?
Dari sisi profesi dokter sendiri, banyak dokter yang merasa bingung/ketakutan dengan posisinya yang terjepit di antara kepentingan pasien atau pihak lain yang harus ditaati (atasan, pemberi imbal jasa, atau pemerintah). Hal ini disebut ‘loyalitas ganda’ dari dokter menurut World Medical Association.
Independensi dokter atau kebebasan profesi dapat dirangkum sebagai suatu ciri keluhuran profesi dokter, yang ditandai dengan sikap bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan bekerja dengan kejujuran, kebenaran, & perikemanusiaan yang mengutamakan kepentingan pasien sesuai kaidah ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.
Masalah penyimpangan independensi dokter bukan hanya pada hal-hal yang berkaitan dengan hukum atau politik saja. Justru sebagian besar masalah yang membuat para dokter menjadi tidak independen adalah berkaitan dengan uang. Sudah menjadi rahasia umum bahwa banyak dokter melakukan kolusi dengan perusahaan farmasi, laboratorium, atau rumah sakit.
Selain itu, banyak dokter melakukan praktik pengobatan alternatif atau menjual produk-produk suplemen makanan seperti dari multi-level marketing (MLM) tanpa disertai bukti-bukti ilmiah yang mencukupi. Beberapa hal tersebut merupakan penyimpangan terhadap independensi dokter menurut Kode Etik Kedokteran Indonesia.
Dengan munculnya berbagai kejadian tersebut yang mempengaruhi independensi dokter, membuat kepercayaan masyarakat terhadap profesi dokter menurun. Hal ini dapat terlihat dari surat pembaca sampai pemberitaan di media massa yang berisi berbagai macam ketidakpuasan, tuduhan malpraktik, sampai berita penyimpangan yang dilakukan para dokter dalam praktik.
Desakan bagi adanya independensi dokter terus muncul karena memang masyarakat membutuhkan profesi dokter yang memiliki independensi dalam sistem pelayanan kesehatan. Masyarakat selalu menginginkan dokter yang memiliki independensi yang ditandai dengan sikap berani: berani hidup jujur & menyatakan kebenaran; berani menolak suap & kolusi; berani berkata tidak pada intervensi politik; juga berani untuk bekerja sesuai standar pelayanan & keilmuan.
Dengan semua keberanian tersebut, diharapkan independensi dokter dapat terus terjaga sehingga kepercayaan masyarakat pada profesi dokter meningkat. Semoga profesi dokter di Indonesia dapat terus menjadi profesi yang memiliki independensi & membanggakan bagi masyarakat Indonesia.
(c)Hukum-Kesehatan.web.id

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: