jump to navigation

Mengobati Atau Berdagang? Juli 31, 2008

Posted by teknosehat in Bioetik & Biohukum, HUKUM KESEHATAN, Tenaga Kesehatan.
trackback

Dokter: Mengobati Atau Berdagang?
Billy N.S. <billy@suterafoundation.org>

Pada Kompas Minggu (27 Juli 2008), rubrik Surat Pembaca memuat beberapa surat yang pada intinya mengeluhkan kurang baiknya pelayanan yang diberikan dokter pada pasien. Selain itu, terdapat surat dari seorang mantan detailman farmasi yang mengeluhkan kolusi antara dokter & farmasi.
Selain itu, beberapa waktu lalu profesi dokter juga mendapat sorotan saat terjadi kasus meninggalnya seorang mahasiswa Universitas Nasional yang melakukan demonstrasi penolakan kenaikan harga BBM namun disebutkan menderita infeksi HIV.
Sebenarnya, apa yang terjadi pada profesi dokter di Indonesia yang baru saja ‘merayakan’ 1 abad kiprah dokter di Indonesia pada hari Kebangkitan Nasional 2008 lalu?
Dokter menurut Mukadimah Kode Etik Kedokteran Indonesia adalah profesi yang luhur & mulia, sehingga di masa lalu dokter adalah sosok yang dianggap ‘separuh dewa’ oleh masyarakat, memiliki prestise tinggi & hampir identik dengan berlimpah kekayaan materi. Namun, setelah lebih dari 1 abad berkarya di Indonesia, sepertinya keluhuran & kemuliaan profesi dokter mengalami ‘desakralisasi’ dengan mulai banyaknya keluhan ketidakpuasan di media massa sampai tuntutan hukum yang menjerat dokter.
Salah satu hal yang paling sering dikeluhkan oleh masyarakat mengenai pelayanan dokter adalah cap ‘materialis’ yang dialamatkan pada dokter, dengan biaya pemeriksaan/tindakan medis yang mahal & berkepanjangan atau harga obat yang mahal. Selain itu, dokter sering dianggap kurang peka, sombong, atau terkesan melecehkan pasien akibat buruknya komunikasi dokter dengan pasiennya.
Dengan banyaknya keluhan tersebut, banyak pasien memilih untuk berobat ke luar negeri dengan harapan mendapatkan pelayanan kesehatan yang lebih baik. Peluang ini dimanfaatkan oleh beberapa orang dokter dengan menjadi bawahan jasa rumah sakit di luar negeri dengan menjadi agennya di Indonesia.
Banyak pula dari masyarakat yang merasa sudah kehilangan kepercayaan terhadap dokter, sehingga beralih ke berbagai metode pengobatan alternatif & suplemen makanan, baik yang asli Indonesia maupun dari luar negeri. Kembali lagi, banyak dokter kembali memanfaatkan peluang ini dengan menjadi praktisi pengobatan alternatif atau aktif menjadi pemasar berbagai produk suplemen makanan.
Dokter juga dinilai kehilangan independensi & obyektivitasnya, suatu hal yang seharusnya menjadi dasar tindakan dokter karena ada di dalam sumpah jabatannya. Hal ini ditandai dengan banyaknya tuntutan dibentuknya ‘tim dokter independen’ setiap kali ada hal yang berkaitan dengan kondisi kesehatan pasien yang mengalami masalah hukum.
Memang masih banyak dokter yang berusaha berkarya sesuai dengan tuntunan etika, hukum, & ilmu pengetahuan, namun berbagai penyimpangan tersebut membuat profesi dokter di Indonesia mendapatkan sorotan dari masyarakat sehingga mengalami penurunan kepercayaan.
Hubungan dokter-pasien adalah suatu hubungan yang unik dalam suatu usaha pengobatan yang berbasis kepercayaan, bukan seperti hubungan bisnis antara penjual-pembeli atau produsen-konsumen jasa kesehatan. Namun, dengan berkembangnya zaman, sepertinya hubungan tersebut mulai bergeser menjadi hubungan bisnis dengan melibatkan banyak uang di dalamnya.
Sehingga, timbul kecurigaan dokter yang berkolusi dengan perusahaan farmasi, alat kesehatan, laboratorium, atau rumah sakit dengan imbalan uang & barang yang telah banyak diungkap oleh berbagai kalangan sejak dahulu. Kolusi yang sebenarnya terlarang menurut etika profesi tersebut menjadi hal yang sangat umum dilakukan oleh dokter demi menambah kekayaannya.
Lebih jauh lagi, banyak dokter mencoba peruntungannya dengan menjual barang & jasa pengobatan alternatif maupun suplemen makanan seperti produk-produk MLM kesehatan. Meskipun sebenarnya semua itu adalah kembali lagi merupakan pelanggaran etika, disiplin profesi, & hukum dengan memberikan pengobatan yang tidak sesuai standar pelayanan, tidak memiliki bukti cukup secara ilmiah, & tidak menggunakan kendali mutu/biaya.
Profesi dokter yang seharusnya bertujuan mulia untuk memberikan pelayanan kesehatan telah berubah & kehilangan independensinya menjadi suatu profesi menjual barang & jasa kesehatan semata demi mendapatkan lebih banyak uang.
‘Kehausan’ dokter akan uang tidak berhenti sampai di sini. Hal-hal yang seharusnya terlarang menurut etika & disiplin pun diabaikan oleh banyak dokter demi menambah kekayaannya.
Yang sangat kasat mata terlihat oleh semua orang adalah sangat banyaknya dokter melakukan promosi dengan beriklan di media massa agar pasiennya lebih banyak lagi atau menjadi bintang iklan suatu produk kesehatan. Padahal, dokter menurut kode etik profesinya terlarang untuk beriklan dengan cara apapun atau memiliki kontrak sebagai propagandis suatu produk kesehatan.
Jika semua hal ini dibiarkan, maka selain turunnya kepercayaan masyarakat pada dokter Indonesia, juga akan membuat profesi dokter menjadi suatu profesi bisnis yang sebenarnya tidak boleh terjadi karena sudah bertentangan dengan keluhuran profesi dokter.
Sudah saatnya hal ini dibereskan agar kepercayaan masyarakat Indonesia terhadap profesi dokter dapat kembali tinggi. Turunnya tingkat kepercayaan masyarakat terhadap dokter di Indonesia itu sama sekali bukan karena jumlah dokter yang relatif sedikit dibandingkan dengan jumlah penduduk Indonesia, ataupun bukan karena alat-alat kedokteran di Indonesia kalah canggih dengan yang ada di luar negeri. Yang menjadi masalah adalah mentalitas dokter yang ingin berbisnis melalui profesinya.
Pelayanan kesehatan di masa kini adalah bisnis, namun hubungan dokter-pasien bukan suatu transaksi bisnis. Hak dokter secara finansial dalam profesinya hanyalah imbalan jasa medik, bukan komisi dari hasil kolusi dengan perusahaan farmasi, keuntungan dari penjualan alat kesehatan, suplemen makanan, atau praktik ‘pengobatan alternatif’.
Untuk itu, pemerintah harus meningkatkan pengawasan & penegakkan hukum atas pelaksanaan peraturan perundangan yang ada di bidang pelayanan kesehatan. Juga menekan biaya kuliah selama pendidikan dokter & spesialisasi yang sekarang dirasakan sangat mahal sehingga membuat banyak dokter menjadi cenderung materialistis untuk mengembalikan biaya kuliahnya.
Selain itu, ikatan profesi dokter harus memberikan pembinaan, pengawasan, & penegakkan disiplin maupun etika agar para dokter bekerja sesuai kode etik & standar profesi. Lalu yang sama pentingnya, masyarakat pun harus kritis terhadap praktik para dokter.
Setelah lebih dari 1 abad berkiprah, sudah saatnya dokter Indonesia kembali ke panggilan yang luhur & mulia dari profesinya dengan tidak menjadikannya sebagai bisnis semata. Indonesia terus menanti kiprah para dokter yang memberikan pelayanan kesehatan yang bermutu & melindungi masyarakat.
(c)Hukum-Kesehatan.web.id

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: