jump to navigation

Persetujuan Tindakan Medik Maret 15, 2008

Posted by teknosehat in HUKUM KESEHATAN, Pelayanan Kesehatan, Tenaga Kesehatan.
trackback

Persetujuan Tindakan Medik
Dr. Wila Ch. Supriadi, S.H.
Guru Besar Hukum Kesehatan Unika Parahyangan Bandung

Hubungan pasien, dokter & rumah sakit (RS), selain berbentuk sebagai hubungan medik, juga berbentuk sebagai hubungan hukum. Sebagai hubungan medik, maka hubungan medik itu akan diatur oleh kaidah-kaidah medik; sebagai hukungan hukum, maka hubungan hukum itu akan diatur oleh kaidah-kaidah hukum.
Salah satu lembaga hukum yang ada dalam hubungan hukum antara dokter, pasien & RS adalah apa yang dikenal dengan lembaga persetujuan tindakan medik (informed consent). Pada tahun 2008, telah diberlakukan Permenkes no.290/2008 tentang persetujuan tindakan medik.
Kaidah-kaidah hukum yang ada di dalam Permenkes no.290/2008 itu, karena baru beberapa tahun diterapkan, masih seringkali membingungkan, baik bagi dokter maupun bagi pasien. Sebenarnya, kaidah-kaidah hukum yang ada di dalam Permenkes no.290/2008 itu sangat sederhana, tetapi permasalahannya kaidah-kaidah yang ada di dalam Permenkes no.290/2008 masih saja sering disalah artikan. Selain itu, masih banyak hal yang belum diatur dalam Permenkes no.290/2008 itu, sehingga menimbulkan keraguan.
Dalam istilah informed consent, secara implisit tercakup tentang informasi & persetujuan (consent), yaitu persetujuan yang diberikan setelah pasien informed (diberi informasi). Dapat dikatakan informed consent adalah “persetujuan yang diberikan berdasarkan informasi”.
Pasal 1 (a) Permenkes no.290/2008 menetapkan: “Persetujuan tindakan kedokteran adalah persetujuan yang diberikan oleh pasien atau keluarga terdekat setelah mendapat penjelasan secara lengkap mengenai tindakan kedokteran atau kedokteran gigi yang akan dilakukan terhadap pasien.”
Selanjutnya Permenkes no.290/2008 menetapkan tentang:
- kewajiban tenaga kesehatan memberikan informasi, baik diminta maupun tidak diminta; diberikan secara adekuat tentang perlunya tindakan medik & resiko yang dapat ditimbulkannya;
- informasi diberikan secara lisan & cara penyampaian harus disesuaikan dengan kondisi & situasi pasien, dalam arti dokter harus memberikan informasi selengkap-lengkapnya kecuali dokter menilai bahwa informasi yang akan diberikan merugikan pasien atau pasien menolak menerima informasi; dalam hal ini, dengan persetujuan pasien, maka dokter dapat meneruskan  informasi kepada keluarga terdekat dari pasien & didampingi oleh seorang perawat/paramedik;
- informasi yang diberikan mencakup keuntungan & kerugian dari tindakan medik yang akan dilakukan, baik diagnostik maupun terapetik;
- informasi cukup diberikan secara lisan; informasi harus diberikan secara jujur & benar kecuali dokter menilai  akan merugikan pasien & informasi tersebut dengan persetujuan pasien akan diberikan kepada keluarga pasien;
- pemberi informasi adalah dokter yang bersangkutan, dalam hal berhalangan dapat diberikan oleh dokter lain dengan sepengetahuan & tanggungjawab dari dokter yang bersangkutan;
- dibedakan antara tindakan operasi & bukan operasi, untuk tindakan operasi harus dokter yang memberikan informasi, untuk bukan tindakan operasi sebaiknya oleh dokter yang bersangkutan, tetapi dapat juga oleh perawat/paramedis;
- jika perluasan operasi dapat diprediksi, maka informasi harus diberikan sebelumnya, dalam hal ini tidak dapat diprediksi sebelumnya, maka demi menyelamatkan jiwa pasien dapat dilaksanakan tindakan medik & setelah dilaksanakan tindakan, dokter yang bersangkutan harus memberitahukan kepada pasien atau keluarganya;
- semua tindakan medik yang akan dilakukan terhadap pasien harus mendapatkan persetujuan & persetujuan dapat diberikan secara tertulis mau pun secara lisan;
- untuk tindakan medik yang mengandung risiko tinggi harus dibuat persetujuan secara tertulis & ditandatangani oleh yang berhak memberikan persetujuan;
- yang berhak memberikan persetujuan, adalah pasien yang dalam keadaan sadar & sehat mental, telah berumur 21 tahun/telah melangsungkan perkawinan;
- bagi mereka yang telah berusia lebih dari 21 tahun tetapi di bawah pengampuan maka persetujuan diberikan oleh wali/pengampu; bagi mereka yang di bawah umur (belum 21 tahun & belum melangsungkan perkawinan) diberikan oleh orang tua/wali/ keluarga terdekat atau induk semang;
- bagi pasien yang dalam keadaan tidak sadar/pingsan & tidak didampingi oleh keluarga terdekat & secara medik memerlukan tindakan segera, tidak diperlukan persetujuan;
- dalam keadaan gawat darurat, untuk menyelamatkan jiwa pasien dan/atau mencegah kecacatan tidak diperlukan persetujuan tindakan kedokteran.
- yang bertanggungjawab atas pelaksanaan informasi & persetujuan adalah dokter; dalam hal dilaksanakan di RS/klinik, maka RS/klinik tersebut ikut bertanggungjawab;
- terhadap dokter yang melaksanakan tindakan medik tanpa persetujuan, dikenakan sanksi administratif berupa teguran sampai dengan pencabutan surat izin praktik.
Beberapa masalah yang seringkali timbul, adalah pengertian informed consent itu sendiri yang disalah artikan oleh pasien, dokter & RS. Dokter/RS berpendapat kalau pasien telah memberikan persetujuan untuk dilakukan tindakan medik, maka berarti dokter/RS akan bebas dari tuntutan/gugatan pasien, sebab dengan telah diberikannya persetujuan, berarti pasien telah melepaskan haknya untuk menuntut/menggugat & sebaliknya pasien menganggap kalau sudah setuju, ya sudah kehilangan hak untuk menuntut & menggugat.
Konstruksi pemikiran di atas adalah salah, sebab persetujuan yang diberikan oleh pasien kepada dokter/RS, adalah persetujuan untuk dilakukan tindakan medik atas dirinya. Istilah umumnya dokter akan berkata: “saya permisi akan melakukan tindakan medik”; & pasien akan menjawab: “silakan melakukan tindakan medik”.
Dokter/RS harus meminta persetujuan pasien, sebagai misal kalau dokter/RS melakukan tindakan operasi tanpa persetujuan pasien dapat dikategorikan sebagai tindakan penganiayaan & menurut hukum perdata dokter dapat digugat telah melakukan perbuatan melawan hukum. Jadi, tidak perlu dokter memaksa pasien untuk dilakukan tindakan medik.
Apabila dalam pelaksanaan tindakan medik, dokter melakukan kesalahan/kelalaian, maka meskipun telah diberikan informed consent oleh Pasien kepada dokter/RS, bahkan kalau pun dituliskan secara tegas di dalam formulir informed consent, bahwa pasien setuju untuk tidak akan menuntut/menggugat, apabila terjadi sesuatu yang tidak diinginkan, tetap saja dokter/RS dapat dituntut & atau digugat.
Dapat dituntut/digugatnya dokter tidak ada hubungannya dengan informed consent, pelanggaran terhadap kewajiban informed consent, dokter/RS “hanya” diberi sanksi administrasi yaitu berupa teguran sampai dengan pencabutan izin praktik.
Dalam hal dokter melakukan kesalahan/kelalaian, kemudian kesalahan/kelalaian itu menimbulkan kerugian kepada pasien, yang artinya ada hubungan sebab akibat antara kesalahan & kerugian, maka pasien mempunyai hak untuk menggugat/menuntut dokter/RS.
Masalah lain adalah mengenai banyaknya informasi yang dapat/harus diberikan kepada pasien. Leenan, seorang guru besar hukum kesehatan dari Belanda memberikan pendapat tentang isi dari informasi yang dapat/harus diberikan kepada pasien: diagnosis, terapi (dengan kemungkinan alternatif terapi), tentang cara kerja & pengalaman dokter, risiko, kemungkinan perasaan sakit ataupun perasaan lainnya (misalnya gatal-gatal), keuntungan terapi, & prognosis.
Kemudian masalah lain dalam pemberian informasi adalah bahasa yang dipakai oleh dokter dalam  menyampaikan informasi. Seperti diketahui kebanyakan pasien adalah awam dengan bahasa kedokteran & tidak semua istilah-istilah kedokteran dapat diterjemahkan dengan mudah ke dalam bahasa orang awam. Seharusnya dokter menggunakan bahasa yang mudah dimengerti oleh pasien & pasien yang tidak mengerti tidak segan-segan untuk mengajukan pertanyaan kepada dokter.
Masalah selanjutnya mengenai informasi, adalah mengenai turut campur keluarga dalam pemberian informasi. Peraturan mengatur, informasi diberikan kepada pasien, dalam hal dokter menilai pasien tidak akan sanggup menerima informasi, maka informasi dapat disampaikan ke keluarga terdekat, tetapi dengan izin dari pasien.
Seringkali dokter memberikan informasi kepada keluarga pasien jauh lebih rinci dibandingkan yang diberikan kepada pasien, bahkan tanpa izin pasien. Hal ini sama dengan membuka rahasia jabatan & diancam dengan hukuman pidana.
Permenkes no.290/2008 jelas telah menentukan bahwa bagi mereka  yang  berumur  di atas 21 tahun/telah melangsungkan perkawinan & dalam keadaan sadar & sehat mental berhak memberikan persetujuan. Di dalam praktik, banyak dokter/RS yang mensyaratkan selain pasien yang bersangkutan, juga adanya pihak ketiga (keluarga terdekat, termasuk suami/istri) yang harus ikut memberikan persetujuan. Kadang-kadang syarat mengikutsertakan pihak ketiga (keluarga) menimbulkan masalah, yaitu dalam hal tidak ada kesepakatan antara pasien & keluarga mengenai tindakan medik yang akan dilaksanakan.
Yang dipertanyakan di sini adalah mengapa pihak RS mensyaratkan hal ini? Bukankah Permenkes no.290/2008 tidak mewajibkan adanya izin dari keluarga? Argumen dari RS adalah demi keamanan, takut digugat keluarga. Perlu disadari kalau terjadi kesalahan/kelalaian, meski pun keluarga ikut memberikan persetujuan, dokter/RS tidak dapat menghindarkan tanggungjawab hukum dengan dalih keluarga telah memberikan persetujuan.
Harus diakui banyak masalah tentang informed consent yang membuat para dokter/RS menjadi sangat pusing, juga disebabkan masih banyak hal yang belum diatur oleh Permenkes no.290/2008. Sebaiknya pemerintah cq departemen kesehatan membentuk peraturan pelaksanaan dalam bentuk peraturan pemerintah tentang informed consent selekasnya, agar tidak terjadi ketidakpastian hukum yang berlanjut, yang akhirnya akan merugikan pasien & dokter/RS khususnya & masyarakat umumnya.

About these ads

Komentar»

No comments yet — be the first.

Tinggalkan Balasan

Please log in using one of these methods to post your comment:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: